Laboratorium Instrumentasi Medik

11132117_10204065871154802_151043822_o

Pengontrolan kursi roda

Instrumentasi Medik merupakan salah satu bagian dari kelompok keahlian Instrumentasi dan Kontrol di Teknik Fisika. Sesuai namanya, instrumentasi medik fokus pada instrumentasi-instrumentasi yang berkaitan erat dengan dunia medis. Tanpa kita sadari, tubuh kita bekerja dengan hukum fisika. Untuk mengembangkan instrumentasi demi kepentingan manusia, terutama medis, dibutuhkan pemahaman tentang tubuh manusia. Perancangan instrumentasi medis dibuat berdasarkan pemodelan atas fenomena fisika pada tubuh manusia. Instrumentasi medik yang tengah dikembangkan yaitu wheel chair, e-nose, dan pencitraan kulit. Ada pula instrumentasi medik yang baru saja dimulai penelitiannya yaitu simulator medis berbasis haptic. Penelitian tentang instrumentasi-instrumentasi medis ini dilanjutkan sebagai topik TA.

Wheel chair merupakan alat bantu bagi orang yang memiliki keterbatasan gerak baik karena cacat fisik maupun memang mengalami gangguan motorik. Untuk beberapa pengguna, wheel chair masih dapat dikendalikan oleh mereka sendiri. Namun ada pengguna wheel chair yang memerlukan bantuan dari orang lain untuk menggerakkan kursi rodanya. Agar pengguna kursi roda dapat lebih bebas bergerak, dibuatlah wheel chair yang dapat bergerak cukup dengan berpikir. Saat manusia berpikir untuk menggerakkan sesuatu, ada saraf-saraf di otak yang mengirim sinyal ke organ tubuh yang seharusnya bergerak. Dengan cara yang sama, sinyal berupa impuls listrik ini yang akan ditangkap oleh EEG lalu diproses hingga menjadi perintah pada wheel chair untuk berjalan seperti maju, mundur, belok atau berputar.

Ide E-nose (electrical nose) bermula dari ketertarikan kami pada industri kopi. Layaknya pada dunia musik, ada orang-orang tertentu yang memiliki indera pendengaran yang sangat peka, ada pula orang-orang yang memiliki indera penciuman yang sangat peka. Orang-orang inilah yang direkrut industri kopi untuk memilah biji mana yang berkualitas baik dan mana yang buruk. Oleh karena kemampuan penciuman setiap orang berbeda-beda, tentunya kualitas kopi yang dipilahnya pun berbeda-beda. Untuk menyama-ratakan kualitas, munculah ide untuk membuat e-nose, sensor untuk aroma. Kelak pemilahan biji kopi dapat dilakukan dengan mesin sehingga setiap cangkir kopi yang dihasilkan akan berkualitas sama.

Screen shot 2015-04-22 at 8.54.20 PM

e-nose

Jika e-nose berangkat dari ketertarikan kami terhadap industri kopi, pencitraan kulit bermula dari ketertarikan kami terhadap industri komestik. Banyak sekali merek komestik yang menjual produk anti-kerut. Sebelum dikeluarkannya produk, tentunya produk di uji terlebih dahulu. Selama ini pengujian produk dilakukan dengan mencetak sampel kulit pada silikon. Tentunya hal ini tidak praktis dan kerutan yang dapat dilihat bukanlah pada saat yang sama terjadi pada kulit. Oleh karena itu, munculah ide untuk membuat alat yang dapat mencitrakan kulit secara real-time.

Penelitian yang baru saja dimulai adalah simulator medis berbasis haptic. Haptic merupakan suatu alat seperti sensor yang mengolah masukan berupa gaya, getaran, dan pergerakan dari pengguna layaknya indera peraba. Simulator medis yang akan dibuat berupa simulator untuk menyuntik sumsum tulang belakang. Ide ini berangkat dari keluhan-keluhan dokter dan perawat. Simulator ini kelak akan berguna untuk pelatihan dokter dan perawat dalam menyuntik sumsum tulang belakang.