Perancangan Desain Pesawat Amfibi Sebagai Transportasi Alternatif terhadap Bencana Alam di Indonesia

Riset oleh: R. Oktanio (13311022) dan Matsani (13311070)

Indonesia memiliki kondisi geografis berupa kepulauan, yang artinya Indonesia terdiri dari banyak pulau yang dipisahkan oleh lautan. Negara Indonesia juga tidak jarang dilanda bencana alam, dan berdasarkan data-data dari BMKG, didapatkan bahwa kondisi cuaca di Indonesia pada tahun 2045 akan semakin sulit untuk dipresdiksi (khususnya di daerah Jawa Barat), sehingga bencana alam akan menjadi hal yang semakin sulit diprediksi. Melihat kondisi ini, maka transportasi perkapalan menjadi sebuah kebutuhan yang sangat krusial. Sayangnya, armada perkalapalan di Indonesia masih sangat minim.

Selain untuk memenuhi kebutuhan perhubungan antarpulau dan mempermudah proses tanggap bencana, armada perkapalan di Indonesia juga dibutuhkan untuk optimasi potensi pantai (saat ini potensi pantai belum termanfaatkan dengan merata), serta membantu kegiatan distribusi barang dan manusia yang dapat berdampak pada penurunan angka pengangguran.

Berdasarkn sumber dari Ditjehubla tahun 2008, pada tahun 2010 diperlukan penambahan kapal sebanyak 654 buah yang terdiri dari kapal coal carrier, tanker, general cargo, dan container. Namun, ternyata penambahan 654 kapal pun masih belum bisa mencukupi kebutuhan nasional mengingat dermaga atau pelabuhan yang masih minimum. Selain itu, belum baiknya integrasi sistem operasional kapal membuat penggunaan kapal masih belum efektif dan efisien.

Berangkat dari kebutuhan, potensi, dan keadaan saat ini, periset pun melakukan perancangan kapal amfibi sebagai salah satu solusi bagi permasalahan yang telah dijabarkan di atas. Untuk merealisasikan hal ini,ada beberapa masalah yang perlu menjadi fokus perancangan, yaitu:

1. Pendekatan dan syarat apa saja yang digunakan dalam mendesain pesawat amfibi?

2. Bagaimanakah desain struktur, arsitektur baik interior maupun ekterior dan inovasi sayap berbentuk M pada rancangan pesawat amfibi sesuai yang dinginkan?

3. Bagaimanakah desain pengontrol yang digunakan terhadap sistem pengendali kemudi pada rancangan pesawat agar stabilitas optimal ketika di air dan di darat?

4. Apa sajakah kontribusi yang dihasilkan dari pengembangan pesawat amfibi terhadap antisipasi bencana alam dalam meningkatkan perekonomian di Indonesia?

Dari  pertanyaan-pertanyaan di atas, maka ditentukanlah ruang lingkup studi riset ini, yang melingkupi:

– desain struktur, arsitektur dan inovasi sayap berbentuk M

– perancangan pengendali kemudi secara mekanik terhadap stabilitas sistem pada pesawat

– menentukan perhitungan parameter untuk geometri sayap pesawat berdasarkan pendekatan terhadap hewan di alam Indonesia burung Elang Jawa

– perancangan sistem kontrol dengan mengunakan remote control dan mikrokontroller.

– pengujian terbang pesawat, take off dan landing baik di udara, di darat dan di air.

Adapun dalam riset ini ditetapkan batasan masalah berupa:

1. Acuan pesawat yang digunakan menggunakan karakteristik tipe Flying Boats atau Seaplane.

2. Prototipe yang dihasilkan berupa bentuk scaledown dengan ukuran tertentu.

3. Komponen-komponen dan bahan material yang digunakan sesuai yang ada dipasaran.

4. Sistem kontrol menggunakan Arduino dan remote control 8 channel.

Dalam riset ini, sudah dibuat rancangan 3D serta prototipe dari pesawat amfibi, dan sedang dilakukan penelitian lebih lanjut berkaitan dengan sistem pengendalian pesawat. Berikut merupakan model 3D dan foo prototipe dari pesawat amfibi yang dirancang.

mod3D

Model 3D pesawat amfibi

Prototipe pesawat amfibi

Prototipe pesawat amfibi